Memayu Hayuning Bawana

Teks dan Foto : Shaim Basyari, S.Pd

Kalimat yang menjadi judul tulisan ini tentu sudah tidak asing bagi kita, terutama bagi orang Jawa. Kalimat tersebut merupakan falsafah yang berasal dari kebudayaan Jawa. Makna dari kalimat tersebut sangatlah dalam dan bijaksana. Falsafah ini pertama kali diperkenalkan oleh Pujangga Besar Ronggowarsito.

Memayu Hayuning Bawana terdiri dari tiga kata. Memayu bermakna ‘mempercantik atau memperindah”. Hayuning adalah keaadaan, dimana yang dimaksud adalah keadaan yang ayu/cantik dan indah. Bawana bermakna bumi, baik arti secara fisik maupun ekosistem yang mengisi bumi. Sehingga secara harfiah makna dari Memayu Hayuning Bawana adalah  membuat ayu/mempercantik keadaan bumi yang memang sudah ayu/cantik.

Sebenarnya, kehidupan masyarakat Jawa terutama yang tinggal di desa sejak dulu telah mengenal dan mempraktekkan falsafah ini melalui Budaya Hijaunya. Kita dapat melihat dari halaman rumah-rumah orang Jawa yang menggunakan tanaman ‘teh-tehan’ sebagai pagar rumahnya. Bungkus makanan yang menggunakan dedaunan, peralatan rumah tangga berbahan kayu dan gerabah dan lainnya.

Budaya hijau itu juga sangat kental pada beberapa karya sastra Jawa. Dalam karya sastra Jawa terlihat bagaimana kedekatan orang Jawa dengan alam sekitarnya. Tembang “Bapak Pucung” salah satunya. Bapak pucung adalah sebutan untuk sejenis serangga berwarna orange yang sering ditemukan di kebon. Dalam lelagon Caping Gunung, kedekatan dengan alam itu juga nampak pada salah satu liriknya yang berbunyi “Saben bengi nyawang konang” (setiap malam melihat kunang-kunang). Suasana hijau juga sangat nampak pada lelagon ilir-ilir, ‘tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo’.

Namun, yang terjadi saat ini masyarakat kita mulai banyak yang meninggalkan falsafah Memayu Hayuning Bawana tersebut. Pagar tanaman hidup diganti dengan beton-beton nan angkuh. Halaman dan pekarangan dipasang konblok sehingga tak satupun rumput yang dapat tumbuh. Rumpun bambu dibabat habis, dianggap merusak pemandangan. Sawah-sawah hilang berganti perumahan. Daun-daun pembungkus makanan diganti plastik yang 100 tahun pun tak akan terurai di tanah. Pandangan hidup kita telah banyak berubah. Sebuah kemewahan diukur dari seberapa besar dan seberapa tinggi bangunan.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak mari kita sama-sama kembali pada falsafah Memayu Hayuning Bawana. Karena pada dasarnya alam dan manusia mempunyai keterikatan yang sangat kuat. Manusia tidak dapat berdiri sendiri. Kehidupan kita ke depan sangat bergantung pada bagaimana kita berlaku terhadap alam. Dalam hal ini, kita dapat memulai dari hal kecil yang ada di lingkungan kita masing-masing. Mengurangi penggunaan plastik yang tak ramah lingkungan. Membuang dan mengelola sampah kita dengan baik. Menjaga dan menghargai makhluk hidup lainnya dengan memberi ruang hijau di lingkungan kita masing-masing.

Mereka ada di sekitar kita, sayang jika tak saling kenal.

Rumpun bambu yang menjadi habitat berbagai jenis makhluk hidup, termasuk anggrek tanah Didymoplexis pallens

Didymoplexis pallens, salah satu jenis anggrek tanah berukuran kecil yang hidup di bawah rumpun bambu. 

Kupu-kupu Papilio memnon jantan pada bunga pagoda (Clerodendrum paniculatum L.)

Kupu kupu Ideopsis juventa saat menghisap nektar bunga

Draco volans, si cicak terbang

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait