Oleh: Rr. Yenny Listyana Idhawati
Musim penghujan telah datang. Januari, seperti akronim yang kaprah diguraukan orang, merupakan bulan yang hiasannya adalah hujan sehari-hari. Benar juga. Sawah-sawah menghijau. Kebun-kebun merimbun. Rerumputan tumbuh merata di tanah-tanah kosong nan basah. Tanda agrarisnya Jawa sangat terang sekarang: Januari, awal tahun 2024.
Sebulan lagi akan ada hajatan besar berskala nasional: pemilu. Namun saya bukan pengamat politik. Hanya penonton berita politik. Itu pun bukan tipe penonton yang baik. Jadi tentu saja saya tidak termasuk golongan yang kampiun membahas pesta demokrasi itu.
Sesuai keseharianku sebagai guru mata pelajaran bahasa Jawa, tentu saja saya lebih mampu bicara hal bahasa dan misalnya lancang sedikit tentang kebudayaan Jawa. Tepatnya bukan lebih mampu. Hanya lebih pantas.
Kalau saja saya nekad membahas politik yang terang bukan bidangku berarti saya ndableg: terang-terangan membantah sabda Nabi “apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”.
Maka baiknya saya ngrumangsani; tahu diri. Agamaku mengajarkan itu. Budayaku juga mengajarkan itu. Aduhai, alangkah menawannya pilihan sikapku ini.
Aduh, adakah hal yang lebih menawan untuk dibahas selain diri sendiri? Ya Tuhan, jauhkan aku dari kejemawaan memuji diri pribadi.
Ah, ternyata ada. Banyak malahan. Tapi mungkin jarang ada yang sempat memikirkan. Apakah itu? Budayaku. Maksudku: aneka macam ekspresi masyarakat Jawa berlatar kebudayaan lokalnya.
Ini fakta. Masyarakat Jawa, bila Anda berkenan mengamati secara seksama, nyaris setiap hari menggelar hajatan. Camkan. Setiap hari. Tidak seperti pemilu yang cuma lima tahun sekali. Aduh, maaf. Malah kesasar ke situ lagi.
Hajatan orang Jawa bukan hanya selingkup daur hidup lho. Bukan cuma supitan (khitanan), lamaran, ngantenan (perkawinan), tingkeban (tujuh bulan usia kandungan), tedhak siten (tujuh bulan usia bayi), sur tanah (kematian). Boleh dihitung hlo, betapa banyak jenis kenduri atau slametan yang acapkali diselenggarakan baik skala kecil, menengah atau pun besar oleh manusia Jawa. Eh, kok seperti ngrembug unit usaha: ada kecil, sedang dan besar? Maafkan saya ya. Ternyata saya guru bahasa yang kekurangan perbendaharaan kata. Sampai-sampai membahas slametan menggunakan vocab dunia bisnis. Tapi sebenarnya juga tidak ada salahnya. Bukankan menginisiasi bisnis baru juga lazim dirituali dengan slametan?
Ada yang menarik untuk dikritik dari fenomena terkini slametan. Anda boleh melihat di banyak foto dokumen slametan masa lalu. Itu jika keluargamu punya hobi mendokumentasikan peristiwa via foto. Jika tidak, boleh juga sekadar bertanya kepada mereka yang usianya sudah tua. Mereka pasti berani bersaksi bahwa slametan (kenduri) pada masanya adalah juga peristiwa srawung (muamalah) yang tidak hanya dengan sesama manusia. Disrawungi juga makhluk lainnya: hewan dan tumbuhan. Kesemestaan tidak hanya diteorikan, justeru rajin dipraktikkan.
Kok saya mendadak ndakik-ndakik ya? Apa buktinya?
Lihat saja di sudut-sudut sawah hari ini, yang baru akan dibajak. Meskipun bajaknya sudah modern, bertenaga diesel, bukan bajak tradisional bertenaga sapi atau kerbau, ritualnya dan ubarampe (piranti) masih otentik. Takir-takir daun pisang berisi sejumput aneka helai bunga, secuil terasi dan sebutir telur ayam Jawa disajenkan di sudut-sudut lahan garapan itu.
Bunganya sebagai ubarampe ekspresi nyata srawungnya manusia andum (berbagi) kebahagiaan dengan serangga terbang (kumbang, kupu, kutu daun, lebah, dsb) mewakili makhluk anasir udara.
Terasinya sebagai ubarampe ekspresi nyata srawungnya manusia andum kebahagiaan dengan welut, uceng, wader dan lain-lain yang mewakili makhluk anasir air.
Telurnya sebagai ubarampe ekspresi nyata srawungnya manusia andum kebahagiaan dengan gegremetan (cacing, semut, rayap serta bermacam jenis hewan melata) mewakili makhluk anasir tanah.
Manusia berperantara daun pisang (simbol tumbuhan) berinteraksi secara baik dan adil dengan cacing, welut dan tawon. Sungguh potret peristiwa nan apik. Namun sayang seribu sayang, pesan yang demikian elok itu telah lama terpendam nyaris hilang dari semesta pikiran dan jiwa manusia Jawa.
Sekian banyak apersepsi berupa ritual-ritual prasaja dalam keseharian kita yang sesungguhnya adalah awalan menuju pelajaran hidup bernilai itu telah telanjur digebyah uyah, disamakan dengan mitos tak berdasar akal.
Sekarang saatnya saya bertanya. Jika pilpres yang untuk kekuasaan lima tahunan saja ada forum debatnya yang begitu tertata megah dan pasti berbiaya mahal, lantas kenapa untuk teori kesemestaan manusia Jawa yang manfaatnya jelas untuk keseimbangan alam hingga kukuting jagad ini tak diberi ruang pembahasan dan perdebatan yang cukup? Apakah kita akan lagi bersembunyi di balik pepatah “rukun agawe santosa” sehingga perdebatan disejajarkan dengan pertikaian?
Kenapa kita terbiasa meremehkan segala yang tampilan visualnya biasa? Kenapa kita semakin hari semakin menjadi sekumpulan manusia yang melulu peduli kulit tanpa peduli isi?
Apakah hujan Januari juga hanya akan selalu digerutui karena melongsorkan tebing, membanjiri jalanan dan membecekkan halaman tanpa kita sadari bahwa beras yang akan kita makan nasinya tahun depan itu pertumbuhan padinya sedang didukungnya?
Fenomena ini mengherankan dan lama-kelamaan niscaya menggeramkan.
