Teks dan Foto : Shaim Basyari, S.Pd
Gua Kiskendo, tempat ini mungkin tak setenar Candi Prambanan, pantai Parangtritis, Malioboro atau tempat wisata di Yogyakarta lainnya. Namun jika kalian adalah penikmat alam dan budaya, tempat ini wajib kalian kunjungi saat singgah di Yogyakarta. Selain dikelilingi alam yang asri dan sejuk khas pegunungan, tempat ini juga menyuguhkan legenda yang sarat nilai dan kental dengan budaya Jawa.
Gua Kiskendo terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Untuk menuju ke tempat ini, kita dapat melalui beberapa jalur. Saya sendiri memilih melalui jalan Sentolo-Nanggulan menuju Simpang Empat Janti lalu ambil jalan ke arah Gua Kiskendo melalui SMA 1 Girimulyo, Puskemas Girimulyo I. Jalanan mulai terasa naik dan terjal setelah melawati pasar Sribit ke arah jalan Gua Kiskendo. Meskipun demikian, perjalanan terasa mengasyikkan karena pemandangan alam yang memukau sepanjang perjalanan. Saya pun menyempatkan berhenti di Tumpak View dan mengambil beberapa foto.

Pemandangan dari Tumpak View, Jalan ke Gua Kiskendo
Sesampainya di kawasan Gua Kiskendo, saya disambut deretan patung kera yang nampak berdiri tegak di depan tulisan “Gua Kiskendo”. Ternyata, patung-patung kera itu erat kaitannya dengan legenda yang menyertai keberadaan Gua Kiskendo itu sendiri. Untuk menuju ke mulut gua, saya turun melewati beberapa anak tangga dan melewati area “Amphiteater” yang digunakan untuk pertunjukan tari.

Patung Kera area Gua Kiskendo

Amphiteater, tempat Pertunjukan Tari

Pintu masuk Gua Kiskendo
Legenda Subali dan Sugriwo
Memasuki kawasan mulut gua, saya tertarik dengan relief yang terpahat apik di tebing sekitar gua. Kebetulan ada Pak Slamet yang sedang duduk santai di gazebo sekitar gua. Saya pun menghampirinya dan mulai membuka percakapan dengan mengenalkan diri. Setelah sedikit berbasa-basi, saya pun akhirnya bertanya tentang relief itu. Lekaki senja yang merupakan juru kunci gua Kiskendo itu pun menceritakan dengan detail setiap relief yang terpahat di sekitar mulut gua Kiskendo.

Pak Slamet, Juru kunci Gua Kiskendo
Relief itu menceritakan tentang pertempuran antara raja bernama Mahesa Sura dan patihnya Lembu Sura melawan Subali dan Sugriwa, kakak beradik yang diperintahkan para dewa untuk merebut Dewi Toro, seorang dewi cantik dari kahyangan yang diculik oleh Mahesa Sura, raja dari Kerajaan Kiskendha. Para dewa di kahyangan pun mencari cara untuk mengembalikan Dewi Tara. Mereka memerintahkan Subali dan Sugriwa untuk mengalahkan Mahesa Sura dan Lembu Sura dan memberikan kekuatan Aji Pancasona kepada Subali. Subali dan Sugriwo juga dijanjikan akan dinikahkan dengan Dewi Toro apabila mereka berhasil mengalahkan sang raja.
Subali dan Sugriwo pun setuju. Mereka pergi ke Kerajaan Kiskendha dan menantang Mahesa Sura dan Lembu Sura. Pertempuran pun tidak dapat terhindarkan. Subali masuk ke dalam Kerajaan, dan menitipkan satu pesan ke Sugriwo. “Jika nanti ada darah putih yang keluar dari gua, berarti aku kalah. Maka segera tutuplah mulut gua ini”, kata Subali pada Sugriwo.
Di dalam gua, Subali berhasil mengalahkan Mahesa Sura dan Lembu Sura. Kepala mereka diadu kumba, saling dibenturkan satu sama lain hingga pecah dan mati seketika. Darah pun mengucur deras dan keluar dari mulut gua. Warna darah yang keluar tersebut adalah merah dan putih yang merupakan perpaduan darah Mahesa Sura dan Lembu Sura. Melihat darah yang keluar dari mulut gua itu, Sugriwo mengira Subali telah mati terbunuh bersama Mahesa Sura, sehingga dia menutup gua dan membawa Dewi Tara Kembali ke kahyangan. Sementara itu, Subali terkurung di dalam gua dan merasa dikhianati.
Subali akhirnya bisa keluar dari dalam gua dan pertikaian pun tak dapat dihindari. Subali dan Sugriwa bertarung. Pertikaian mereka akhirnya dapat dihentikan oleh ayah mereka, Resi Gotama. Resi Gotama sendiri marah besar kepada Subali karena sifat angkuhnya dan mengutuk Subali akan mati di tangan Parbu Rama Wijaya. Sementara itu, di tengah konflik yang berlangsung Sugriwo tetap menikah dengan Dewi Tara dan mendapatkan Kerajaan di Gua Kiskendo yang diberi nama Kerajaan Pancawati. Berdasarkan informasi dari Pak Slamet, kisah yang digambarkan dalam relief tersebut juga dapat kita nikmati pada pementasan Sendratari Sugriwa Subali di Amphiteater Kiskendha pada waktu tertentu.
“Berarti relief ini sudah ada sejak ditemukannya gua Pak?”, tanya saya pada Pak Slamet. “Relief ini baru ada sekitar tahun 1970-an. Dibuat oleh komunitas seni Yogyakarta yang dipimpin Pak Sujatmiko, priyayi Banguntapan Bantul”, ujar beliau. “Gua Kiskendo sendiri ditemukan pada tahun 1800-an”, Pak Slamet kemudian melanjutkan penjelasannya.

Relief 1. Mahesa Sura dan Lembu Sura

Relief 2. Subali dan Sugriwa saat diutus Dewa

Relief 3. Dewi Toro

Relief 4. Pertempuran Subali dengan Mahesa Sura dan Lembu Sura

Relief 5. Sugriwo melihat aliran darah merah dan putih keluar dari gua

Relief 6. Sugriwo menutup mulut gua dan kembali ke kahyangan

Relief 7. Sugriwo dinikahkan dengan Dewi Toro

Relief 8. Pertempuran Subali dengan Sugriwo
Berada di Kawasan Desa Ramah Burung
Bagian yang tidak kalah menarik dari kawasan Gua Kiskendo adalah keberadaan satwa burung. Gua Kiskendo sendiri berada di Desa Jatimulyo yang merupakan Desa Ramah Burung. Berbagai jenis burung dapat dengan mudah kita lihat beraktivitas di pepohonan yang tumbuh di sekitar mulut gua. Pohon beringin misalnya, yang berhasil menarik perhatian saya karena beberapa ekor cucak kuning (Rubigula dispar) terlihat asik menikmati buah dari pohon tersebut. Burung cabai bunga api (Dicaeum trigonostigma) tak mau ketinggalan. Burung berukuran kecil itu terlihat mondar-mandir dari ranting ke ranting sambil mengleuarkan siulan khasnya “brrr-brrr”, “zit-zit-zit” yang diulang.
Saya mencoba menelusuri jalan setapak di sekitar kompleks Gua Kiskendo untuk mencari tahu jenis-jenis burung lain yang ada di sini. Saat menaiki satu persatu anak tangga, perhatian saya teralih pada burung kecil berwarna merah merona dengan paruh Panjang yang melengkung. Binokuler pun saya arahkan pada burung itu. Burung madu-jawa (Aethopyga mystacalis)! Ya, saya bertemu dia di sini. Burung cantik itu terlihat sedang menyambangi tanaman yang berbunga. Sesekali terlihat menyunttikkan paruh panjangnya di pangkal bunga yang mekar. Sungguh pemandangan yang indah!.
Beberapa saat kemudian, seekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela) melintas. Ia nampak berputar-putar sambil merentangkan kedua sayapnya, seakan mengisyaratkan bahwa dialah sang predator di kawasan ini.
Mendung tiba-tiba datang, dan rintik hujan pun turun. Saya berteduh di gazebo. Beberapa ekor burung tepekong jambul (Hemiprocne longipennis) terlihat asik berputar-putar di atas pohon pinus, sesekali terlihat bergelantungan di ranting-rantingnya tanpa peduli dinginnya air hujan yang menerpa tubuhnya. Pun dengan saya, rasanya saya ingin berlama-lama di sini, menikmati hangatnya perpaduan alam dan budaya di tengah dinginnya udara Gua Kiskendo.

