Galeri Festival Literasi Sekolah 2023 dan Website Literasi Sekolah (23)
Modern

Oleh : dr. Eny Suswanti

Komite SMP Unggulan ‘Aisyiyah Bantul

 

Rumah-rumah, toko-toko

Semua hitungan hanya dengan coretan

Atau mungkin mencongak, belum ada hitungan digital

Anak-anak belajar dengan lampu minyak, teplok, senthir atau petromax

atau apalah orang menyebut

Pinggir-pinggir jalan dipasang obor yang nyalanya warna merah kekuningan

Dengan asap hitam

 

Gedung menjulang ke langit bisa dihitung dengan sepuluh jari

Berselang seling dengan rumah-rumah atap rumbia

Sejuk angin dari pepohonan menjadi air conditioner

Jendela-jendela kami buka lebar hingga oksigen murni kami hirup sedalam-dalamnya

Catatan dibuat dengan sabak lalu daun lontar, baru kemudian kertas

Tak ada catatan digital serumit komputer, semua sederhana

Dan ketika semua telah tergantikan dengan listrik, komputer, internet

Kemana mereka semua

Ah, kadang rindu jumpa mereka

 

Lalu, ketika energinya mati

Kemana kami minta pengganti

Akhirnya kembali manual, ke enegi fisik manusia

 

Sleman, 7 Februari 2019

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait