Oleh : dr. Eny Suswanti
Komite SMP Unggulan ‘Aisyiyah Bantul
Rumah-rumah, toko-toko
Semua hitungan hanya dengan coretan
Atau mungkin mencongak, belum ada hitungan digital
Anak-anak belajar dengan lampu minyak, teplok, senthir atau petromax
atau apalah orang menyebut
Pinggir-pinggir jalan dipasang obor yang nyalanya warna merah kekuningan
Dengan asap hitam
Gedung menjulang ke langit bisa dihitung dengan sepuluh jari
Berselang seling dengan rumah-rumah atap rumbia
Sejuk angin dari pepohonan menjadi air conditioner
Jendela-jendela kami buka lebar hingga oksigen murni kami hirup sedalam-dalamnya
Catatan dibuat dengan sabak lalu daun lontar, baru kemudian kertas
Tak ada catatan digital serumit komputer, semua sederhana
Dan ketika semua telah tergantikan dengan listrik, komputer, internet
Kemana mereka semua
Ah, kadang rindu jumpa mereka
Lalu, ketika energinya mati
Kemana kami minta pengganti
Akhirnya kembali manual, ke enegi fisik manusia
Sleman, 7 Februari 2019
