One Day Exploring And Literating : Desa Ramah Burung Jatimulyo

Teks dan Foto : Shaim Basyari, S.Pd

Sabtu tanggal 6 Januari 2023 lalu, SuaraUnggulan berkesempatan menyambangi Desa Ramah Burung, Jatimulyo Kulonprogo. Kegiatan yang bertajuk One Day Exploring And Literating ini salah satunya bertujuan untuk mempersiapkan terbitnya majalah SuaraUnggulan edisi V yang mengusung tema “alam”.

Desa Jatimulyo, Kulonprogo terletak kurang lebih di ketinggian 800 mdpl di kawasan pegunungan menoreh, tepatnya di kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo. Perjalanan kami dari Bantul mencapai desa ini membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam. Menyusuri jalanan yang berkelok-kelok serta naik turun yang curam. Kami juga harus berhati-hati karena di beberapa titik terdapat jalan atau tebing yang longsor. Meski begitu, selama perjalanan menuju ke desa Jatimulyo, kami disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan, bukit yang hijau dengan aneka rupa pepohonan yang menjulang.

Kiiiiik”. Seekor Elang ular-bido (Spilornis cheela) terbang melayang di atas basecamp KTH Wanapaksi, tepat saat kedatangan kami. Jenis ini merupakan salah satu jenis burung pemangsa yang ada di kawasan Jatimulyo. Elang ular-bido merupakan jenis burung pemangsa yang khas. Pada waktu terbang, terlihat garis putih lebar pada ekor dan garis putih pada pinggir belakang sayap. Bagian tubuh lainnya berwarna gelap dengan sayap lebar dan membulat membentuk huruf C saat terbang dengan ekor yang pendek.

Saat kami tiba di lokasi, waktu sudah beranjak siang sekitar pukul 08.30 WIB. Selepas mengamati Elang  ular-bido, kami segera berkumpul dan melakukan briefing yang dipandu mas Zulqarnain dari Endemic Indonesia Society. Rombongan kami dibagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok berjumlah 5 orang. Kegiatan pertama kami di sini adalah birdwatching (pengamatan burung). Sebelumnya kami dijelaskan terlebih dahulu mengenai penggunaan teropong binokuler sebagai alat pengamatan. Bagi sebagian besar kami yang baru pertama menggunakan, rasanya susah-susah gampang. Untuk membidik burung yang ingin kami lihat, rasanya butuh kejelian dan kesabaran.

Setelah kelompok dibagi, kami segera menuju ke lokasi pengamatan burung. Kelompok 1 dipandu Pak Kasidi sebagai guide lokal dan Mas Haqqul sebagai fasilitator menuju jalur atas yakni bukit di belakang basecamp. Sedangkan kelompok 2 dipandu Pak Supangat sebagai guide lokal dan Mbak Distya sebagai fasilitator menuju jalur bawah. Kami sangat antusias mengikuti kegiatan ini meski beberapa diantara kami harus terjatuh-jatuh karena jalan yang terjal dan licin di sepanjang jalur pengamatan.

Mengamati burung

Beberapa jenis burung yang berhasil kami amati dengan baik adalah burung cabai bunga api (Dicaeum trigonostigma). Burung berukuran kecil ini merupakan burung pemakan buah dan merupakan burung yang umum dan mudah dijumpai di tempat ini. Jenis lain yang teramati adalah Cucak kuning (Rubigula dispar). Bentuk tubuhnya mirip dengan burung kutilang namun burung ini memiliki warna tubuh dominan kuning dengan kepala yang berwarna hitam dan sedikit warna orange kemerahan di lehernya.  Kawanan burung ini terlihat asik mengunjungi tumbuhan yang sedang berbuah. Kami juga melihat burung kedasi ungu (Chrysococcyx xanthorhynchus). Ini juga burung yang asing bagi kami. Burung yang kami lihat adalah burung jantan dengan warna ungu mengkilap dan perut berpalang putih. Selain itu ada satu burung migran berukuran kecil yang berhasil kami amati di Jatimulyo. Setelah pemandu kami menjelaskan dan memperlihatkan buku panduan burung, kami baru tahu nama spesies burung itu yakni burung cikrak kutub (Phylloscopus borealis). Lucu ya namanya. Berikutnya yang tidak kalah menarik adalah burung Kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris). Burung yang masih satu keluarga dengan burung wiwik dan kedasih ini memiliki postur tubuh yang relatif besar dengan tubuh atas gelap kehijauan, tubuh bawah cokelat berangan tebal dengan kombinasi wajah merah cerah, mata pucat melotot, serta paruh atas pucat dan paruh bawah merah yang membuatnya seperti badut. Burung lain yang berhasil kita amati adalah burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), burung cinenen pisang (Orthotomus sutorius), burung pijantung gunung (Arachnothera affinis), burung empuloh janggut (Alophoixus bres), dan pelanduk semak (Malacocincla sepiaria).

Burung cabai bunga api remaja

Burung madu sriganti betina

Burung cikrak kutub

Burung kadalan birah

Selesai pengamatan burung, kami diajak mengunjungi salah satu rumah warga untuk melihat proses pembuatan gula Jawa atau gula Aren. Nira kelapa dalam bumbung-bumbung bambu itu dituang ke dalam wajan besar dan dipanaskan selama 2 hingga 3 jam sampai mengental dan siap dicetak. Kami berkesempatan mengaduk-aduk nira itu agar matang sempurna. Nira yang mengental tadi akan berwarna kecoklatan dan siap dituang ke dalam cetakan. Di desa ini, cetakan gula aren terbuat dari batok kelapa yang dibelah menjadi 2 bagian. Oleh karena itu, gula aren yang dihasilkan berbentuk setengah lingkaran. Kami juga berkesempatan mencicipi kereng, yaitu gula aren yang masih tersisa di wajan. Hmm, rasanya manis. Uenaak pol.

Proses pembuatan gula jawa/ gula aren

Terakhir, kami diajak melihat proses budidaya madu klanceng. Klanceng sendiri merupakan lebah madu kerdil (Apis florea) yang tidak menyengat. Biasanya sering ditemukan membuat sarang pada lubang bambu. Di desa Jatimulyo ini, Pak Tholo membudidayakan klanceng dalam box-box kayu berukuran kecil. Lebah klanceng akan membuat sarang dalam box-box itu dan meletakkan madunya di sana. Menurut Pak Tholo, pemanenan madu klanceng sebaiknya dilakukan pada malam hari. Hal ini untuk menghindari lebah klanceng stress yang dapat berakibat meninggalkan sarang.

Sarang lebah klanceng 

Diskusi dan berbagi cerita pengalaman

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, kami berdiskusi di pendopo. Saling bertukar cerita dan pengalaman selama mengikuti kegiatan. Tak lupa kami juga saling melengkapi catatan yang nantinya kami gunakan sebagai acuan untuk menuliskan cerita dan pengalaman kami ini di SuaraUnggulan edisi ke V. So, tunggu cerita lengkapnya di SuaraUnggulan edisi-V, ya!

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

    Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

    Mendidik adalah memimpin,
    berkarya adalah bernyawa.

    Artikel Terkait