Galeri Festival Literasi Sekolah 2023 dan Website Literasi Sekolah (13)
Pelajar Pancasila

Oleh : Shaim Basyari, S.Pd

Guru IPA SMPUA

 

Salah satu permasalahan bangsa saat ini adalah merosotnya moral generasi muda. Beberapa tahun lalu kita semua dikejutkan dengan berita tentang pemukulan seorang guru oleh siswa yang berbuntut pada meninggalnya guru tersebut. Berikutnya ada guru yang ditusuk muridnya sendiri dan sederet kasus lainnya juga seakan mengiyakan jika moral generasi kita memang sedang merosot. Belum lagi pergaluan bebas terjadi hampir di semua  wilayah. Tragedi minuman keras oplosan dengan korban yang tak terhitung lagi jumlahnya. Hampir semua kejadian itu melibatkan pemuda di dalamnya. Memprihatinkan.

Sangat banyak faktor yang menyebabkan permasalahan-permasalahan itu muncul. Apalagi di era modernisasi saat ini. Hampir setiap pemuda memiliki gawai pintar. Melalui gawai pintar itu berbagai tayangan dan tontonan baik yang mendidik maupun yang tidak dengan mudah menyebar. Apabila tidak berhati-hati, pemuda kita sekarang dapat dengan mudah terjerumus ke perilaku-perilaku amoral.

Padahal, generasi muda adalah harta berharga bagi sebuah bangsa. Pemuda adalah penerus perjuangan. Mereka lah yang akan mengisi setiap tatanan berbangsa dan bernegara di masa datang. Bahkan Bung Karno dalam pidatonya pernah menyampaikan, “berilah aku 10 orang pemuda, maka aku akan guncang dunia!”. Begitulah peran penting pemuda bagi bangsa. Jika pemuda kita bermoral buruk, tentu masa depan bangsa kita akan buruk pula.

Pendidikan menjadi salah satu sarana yang dapat mengubah kepribadian seseorang menjadi lebih baik. Pemerintah melalui Kemendikbud meluncurkan Kurikulum Merdeka yang didalamnya memuat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Melalui program itu,  guru dituntut untuk menanamkan karakter pada setiap peserta didiknya. Penanaman karakter ini sebenarnya juga dapat dilakukan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran. Karakter setiap peserta didik bukan hanya tanggung jawab guru Agama dan PKn tetapi tanggung jawab semua guru.

Sebagai dasar negara, nilai-nilai Pancasila dapat digunakan oleh guru dalam menanamkan nilai moral dan pembentukan karakter peserta didiknya. Di dalam Pancasila terkandung karakter dan nilai moral yang sangat kaya. Dalam sila pertama, kita dapat menemukan nilai ketuhanan. Sila kedua mengandung nilai kemanusiaan. Sila ketiga mengandung nilai persatuan. Sila keempat mengandung nilai kebebasan berpendapat, kepemimpinan, kebijaksanaan. Sila kelima mengandung nilai keadilan.

Dalam artikel ini penulis mencoba menguraikan pembentukan karakter Pancasila pada siswa di sekolah. Karakter Pancasila yang dimaksud adalah karakter yang dikembangkan dari nilai moral yang terkandung dalam setiap sila Pancasila. Apabila nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah maka akan terbentuk manusia yang seimbang baik kognitif (pengetahuan) maupun afektif (sikap dan akhlak) nya.

Permasalahan sosial yang dialami oleh remaja terutama siswa di Indonesia tentu saja harus segera diatasi. Sekali lagi, salah satu langkah yang harus ditempuh adalah melalui pendidikan. Pendidikan secara umum berfungsi dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam hidup dan kehidupan. Pancasila sebagai dasar negara yang kaya akan nilai-nilai moral harus dapat ditanamkan dalam jiwa setiap generasi penerus di sekolah-sekolah.

Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa

Dalam sila pertama Pancasila tersebut, telah jelas bahwa bangsa kita adalah bangsa yang beragama bukan penganut atheisme. Percaya dan bersaksi bahwa ada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Kepercayaan tersebut harus diwujudkan juga dalam perbuatan untuk selalu taat kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Setiap guru dapat menanamkan nilai ketuhanan pada beberapa kegiatan seperti selalu membuka dan menutup pembelajaran dengan berdoa, menghubungkan setiap materi pembelajaran dengan rasa syukur, takjub dan penuh ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta Alam Semesta.

Sikap religius siswa di sekolah bukan hanya menjadi tanggungjawab seorang guru agama saja namun merupakan tanggungjawab seluruh guru di sekolah bahkan seluruh warga sekolah. Untuk membangun karakter religius sesuai sila pertama pancasila tersebut, sekolah juga dapat mengembangkannya melalui kegiatan-kegiatan rutin keagamaan seperti Sholat berjamaah baik sholat wajib maupun sunnah, membiasakan membaca Qur’an sebelum kegiatan pembelajaran, mengadakan acara keagamaan di setiap hari besar keagamaan, kajian rutin kelas dan lain sebagainya.

Sila Kedua : Kemanusiaan Yang Beradab

Kemanusiaan juga dapat bermakna memanusiakan manusia. Manusia dibekali kemampuan berpikir yang membuatnya berbeda dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Dengan akal pikirannya tersebut setiap ucapan, dan tindakannya harus sesuai dengan adab. Adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti. Dengan demikian kemanusian yang beradab memuat banyak sekali nilai moral yang harus dijunjung sebagai manusia.

Seorang guru harus dapat menempatkan posisinya sebagai seorang yang lebih tua, sehingga anak dapat membedakan mana guru mana teman. Guru seyogyanya bersikap bijaksana agar setiap pesera didik dapat memberikan rasa hormat kepada nya. Selain itu guru harus memberikan rasa kasih sayang dan cintanya kepada setiap siswa tanpa membedakan satu dengan yang lain.

Dalam pembelajaran, nilai kemanusian ini dapat ditanamkan melalui berbagai bentuk kegiatan. Sebagai contoh, guru dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran aktif seperti presentasi dan diskusi kelompok. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat membiasakan siswa bertanya dan menjawab dengan tutur dan bahasa yang sopan. Membiasakan meminta izin ketika melakukan sesuatu saat pembelajaran. Memberi apresiasi setiap siswa yang berprestasi tanpa melihat SARA siswa tersebut.

Rutinitas sekolah juga dapat digunakan untuk menanamkan nilai kemanusian yang beradab ini. Setiap datang dan pulang sekolah guru dapat membiasakan menyapa dan menyalami siswa-siswinya. Mendoakan dan memberi semangat siswa-siswinya dalam belajar.

Sila Ketiga : Persatuan Indonesia

Bhineka Tunggal Ika. Begitulah semboyan bangsa Indonesia yang terpampang dalam lambang Pancasila. Kalimat tersebut bermakna berbeda-beda namun tetap satu. Hal itu menggambarkan beragamnya suku, ras, bahasa, agama dan budaya masyarakat Indonesia. Namun dari keberagaman tersebut tidak membuat kita bercerai-berai tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa Indonesia dengan tetap menjaga toleransi.

Dalam pembelajaran, nilai persatuan ini dapat ditanamkan dengan selalu menjunjung bahasa persatuan yakni menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Selain itu, rasa cinta tanah air harus selalu dimunculkan dalam pembelajaran. Sebagai guru, materi yang diajarkan harusnya tidak lepas dari keadaan sekitar peserta didik sehingga peserta didik dapat mengenal dengan baik lingkungannya sebagai bangsa Indonesia.

Kecintaan tanah air juga dapat dipupuk melalui kegiatan upacara bendera. Kegiatan upacara bendera secara umum dapat melatih kekompakan dan kebersamaan. Sebagai contoh, saat pemimpin upacara memberikan aba-aba wajib diikuti oleh seluruh peserta upacara. Dan hampir semua prosesi dalam kegiatan upacara bendera mengandung makna kecintaan terhadap tanah air kita, terhadap persatuan bangsa. Untuk itu kegiatan upacara bendera di sekolah haruslah selalu dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

Sila Keempat : Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Dalam sila keempat Pancasila ini terdapat beberapa nilai karakter dan moral yakni kepemimpinan, permusyawaratan, kebijaksanaan dan sikap demokratis. Pembelajaran di sekolah dapat diarahkan dalam pembentukan karakter-karakter tersebut.

Pertama, sikap demokratis dan permusyawaratan dapat dikembangkan dalam pembentukan kelompok dalam pembelajaran. Penentuan ketua kelompok dan anggota dapat dipilih dengan permusyawaratan dan secara demokratis. Begitu juga dalam menyelesaikan pekerjaan kelompok diperlukan musyawarah dan saling tukar pendapat.

Kepemimpinan dapat sekaligus diajarkan melalui kerja kelompok. Setiap kelompok memiliki ketua kelompok dimana siswa yang lain harus mengikuti apa yang disampaikan ketuanya. Selain kepemimpinan, kerja kelompok juga melatih rasa tanggungjawab dan kepatuhan terhadap pemimpin.

Tentu saja peran guru dalam mendampingi para siswanya dalam pembelajaran ini sangat diperlukan. Sekaligus membiasakan kerja kelompok dalam setiap pembelajaran di kelas supaya nilai-nilai yang ada di sila keempat Pancasila ini dapat ditanamkan.

Sila Kelima : Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan dapat ditanamkan melalui banyak hal. Sebagai contoh, dalam memberi nilai ke anak guru tidak boleh bersikap subjektif tetapi harus obyektif sesuai dengan kemampuan siswa sebenarnya. Fasilitas yang diberikan kepada setiap siswa pun harus sama, tidak memandang siswa tersebut dari golongan kaya atau miskin, membayar sendiri atau beasiswa.

Siswa juga dapat belajar tentang nilai keadilan sosial dengan tidak menggunakan perhiasan berlebih yang memicu kecemburuan dengan yang lain. Berteman dengan siapa saja dan tidak membedakan latar belakang ekonomi keluarganya. Untuk melatih hal tersebut, siswa dapat bertukar tempat duduk setiap hari.

Sikap kepedulian sosial juga dapat ditumbuhkan melalui kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh pihak sekolah. Menjenguk teman atau keluarga teman yang sedang sakit dan lain sebagainya. Melalui kegiatan sosial siswa diajak untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Kegiatan sosial ini tidak harus saat ada musibah, namun dapat dibiasakan melalui infak rutin setiap Jum’at atau kegiatan-kegiatan lainnya.

Pada akhirnya, Pancasila sebagai dasar negara kita mengandung nilai moral yang sangat kaya. Sebagaimana yang penulis kemukakan di awal bahwa nilai-nilai moral ini dapat menjadikan kita menjadi manusia yang seimbang. Yang dimaksud seimbang yakni memiliki hubungan vertikal (manusia-Tuhan) dan hubungan horizontal (manusia-manusia) yang baik. 

Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda kita harus dibekali nilai-nilai Pancasila tersebut agar terbentuk masyarakat yang bukan hanya cerdas namun juga bermoral. Untuk itu, dunia pendidikan menjadi unsur yang penting dalam pembentukan karakter Pancasila tersebut karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap orang.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait