Teks : Shaim Basyari, S.Pd
Indonesia adalah negeri yang diliputi ribuan pulau. Itulah mengapa nenek moyang kita dahulu kala menyebut kawasan ini dengan sebutan Nusantara yang berasal dari dua kata yakni “nusa” yang dalam bahasa Sansekerta berarti pulau dan “antara” yang berarti antar (antara), relasi, sebrang, laut. Dengan demikian Nusantara mengandung makna kepulauan yang dipisahkan oleh laut.
Sekitar tahun 2011 lalu, saya dan tiga orang teman saya merasa sangat beruntung karena berkesempatan mengunjungi salah satu pulau dari ribuan pulau cantik di Indonesia ini. Pulau yang saya kunjungi ini benar benar istimewa. Luas daratannya kurang dari 16 ha dan merupakan pulau tak berpenghuni. Pulau yang berada di perairan selat Sulawesi ini adalah salah satu pulau dari gugusan kepulauan Derawan, Berau, Kalimantan Timur. Ialah pulau Sangalaki.
Untuk menuju ke pulau Sangalaki kami harus naik “taksi” atau semacam mobil carter yang berangkat dari kota Berau menuju Tanjung Batu. Perjalanan dari Berau ke Tanjung Batu dapat ditempuh selama kurang lebih 5 jam. Selama perjalanan kita akan disuguhi pemandangan sisa-sisa hutan dataran rendah Kalimantan. Jika beruntung, kawanan monyet dan burung enggang dapat kita nikmati di kanan kiri jalan. Namun, di beberapa bagian, terlihat hutan-hutan itu mulai gundul dan ladang sawit siap menggantikannya.
Di ujung jalan tampak perahu-perahu berderet diatas birunya air laut. Itu pertanda kami telah sampai di Tanjung Batu. Tanjung Batu adalah sebuah kawasan pesisir dimana sebagian besar masyarakat disini hidunya bergantung pada hasil laut. Dari Tanjung Batu inilah ada berbagai macam pilihan cara untuk menyebrang ke pulau Sangalaki. Perahu-perahu dan speedboat dengan berbagai ukuran dengan mudah kita temui untuk bisa mengantarkan kita menuju lokasi.
Kami sendiri tidak memilih menggunakan speedboat yang ada disana. Saya dan teman-teman ditawari numpang di perahu milik pak Agus dan mengganti biaya solarnya sekitar Rp 450.000,00. Jauh lebih murah daripada menyewa speedboat yang harganya bisa mencapai 2 juta rupiah. Pak Agus adalah seorang nelayan yang tinggal di Tanjung Batu. Beliau merupakan kakak dari Pak Karna, polisi hutan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Berau Kalimantan Timur. Pak Karna inilah yang diminta pihak BKSDA Berau untuk menemani kami selama di pulau Sangalaki.
Jadi sebenarnya tujuan kami ke pulau Sangalaki adalah untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik tempat bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) di pulau itu. Sebelumnya kami membuat proposal penelitian yang kemudian kami presentasikan di kantor BKSDA. Kemudian BKSDA Berau meminta pak Karna yang merupakan polisi hutan mendampingi kami selama di lapangan.
Perjalanan dari Tanjung Batu ke pulau Sangalaki kami tempuh menggunakan perahu milik pak Agus. Perahu ini biasa digunakan pak Agus mencari ikan. Saat mengantar kami pun, pak Agus berencana menyempatkan mencari ikan di sekitar perairan Sangalaki. Sekitar jam setengah enam pagi kami berangkat dari dermaga Tanjung Batu. Perahu pak Agus berjalan perlahan mengantarkan kami menuju Sangalaki. Tak jauh dari dermaga perahu kami melewati puluhan karamba milik masyarakat setempat. Di karamba-karamba raksasa itu mereka membudidayakan ikan laut. Laut yang tenang, cuaca yang cerah, semilir angin sepoi-sepoi juga burung-burung laut yang terbang di atas perahu kami menjadi teman di sepanjang perjalanan.

Kantor BKSDA Kalimantan Timur, Berau (foto : Zainul)

Persiapan keberangkatan (foto : Nizar)

Saya, Pak Karna (topi), dan Pak Agus (pemilik perahu) (foto : Nizar)

😀 (foto : Nizar)
Meski pulau Sangalaki sudah dekat, kami tidak bisa langsung menepi ke pulau tersebut. Air laut saat itu mulai surut, sehingga kami harus singgah di pulau Semama. Begitu setelah perahu menepi saya langsung mengeksplore pulau yang juga tak berpenghuni ini. Pasirnya putih bersih dan hutannya begitu perawan. Beberapa kali Elang bondol terbang rendah, berputar-putar dan sesekali terjun ke laut menangkap mangsa. Saat surut, terumbu karang di sekitar pantai Semama menyuguhkan beragam biota lautnya yang menawan.

Resort Pulau Semama (foto : Shaim)

Pantai di Pulau Semama (foto : Nizar)

Pulau Semama saat Surut (foto : Nizar)

Echinoidea (foto : Shaim)

Tridacna (kima) (foto : Shaim)

Bintang laut (foto : Shaim)

Bintang laut lagi 😀 (foto : Shaim)
Kami kembali melanjutkan perjalanan ke pulau Sangalaki setelah air mulai pasang. Perjalanan dari pulau Semama menuju Sangalaki tidak butuh waktu lama karena jaraknya yang sudah dekat. Pemandangan pantai pasir putih dan laut yang biru jernih menyambut saat kami mulai menepi di pulau ini. Lalu ikan-ikan kecil bergeromol banyak sekali jumlahnya berenang di tepian pantai dan ikan ikan besar mengejar ngejar di belakang gerombolan itu. Sepertinya hendak memangsa.

Ikan-ikan kecil di sekitar perahu kami (foto : Shaim)
Memasuki pulau, pohon-pohon besar terlihat tersebar menutupi sebagian besar pulau Sangalaki. Kehidupan liarnya masih terjaga karena pulau ini adalah pulau konservasi dengan status Taman Wisata Alam. Ternyata di pulau Sangalaki ada sebuah bangunan milik Turtle Foundation (TF) . Turtle Foundation merupakan LSM Jerman dan juga mitra BKSDA Berau yang bergerak dalam pelestarian penyu. Bangunan ini digunakan setiap harinya oleh pegawai TF dan polisi hutan sebagai tempat pemantauan penyu yang ada di pulau Sangalaki. Di bangunan inilah kami akan menginap untuk kurang lebih seminggu kemudian.
Selama kami berada di pulau Sangalaki, kami mengikuti kegiatan teman-teman TF dan polisi hutan. Setiap malam sekitar jam 10 kami mengelilingi pulau kecil ini untuk memastikan jumlah penyu yang naik untuk bertelur dan memastikan keberadaan telurnya aman dari ombak dan air laut. Jika posisi telur tidak aman, kami akan segera menggali sarang dan memindahkan telur-telur ke tempat yang lebih aman atau di Hatchery. Hatchery adalah kandang semi alami yang digunakan untuk memindahkan telur-telur yang tidak aman.

Menukur Morfologi Penyu Hijau (foto : Nizar)

Mengambil Telur dari Lubang Sarang (foto : Nizar)
Ada yang menarik dari perilaku penyu hijau saat naik ke daratan untuk bertelur. Saat mendarat Penyu memanfaatkan air pasang agar tidak membuang banyak tenaga untuk berjalan di pasir. Setelah itu penyu akan berjalan di pasir searah jarum jam. Lalu di sepanjang jalannya ia akan memilih lokasi bertelurnya. Ia juga membuat sarang palsu untuk mengelabui pemangsanya. Selama kami berada di pulau yang hanya butuh 30 menit untuk mengelilinginya ini rata-rata penyu hijau yang mendarat 10 – 15 ekor per malamnya.
Jika pagi datang, kami bersama teman-teman TF dan Polhut kembali mengelilingi pulau untuk mengecek telur-telur yang menetas dari sarangnya. Mencatat jumlah yang menetas dan memastikan tukik atau anak penyu dapat keluar semua dari sarang karena terkadang tukik tersangkut lilitan akar pohon saat ia hendak keluar dari sarang. Jika mendapati kejadian seperti itu kami segera membantu tukik tersebut dan melepaskannya ke laut.

Penyu Hijau (foto : Shaim)

Tukik (foto : Shaim)
Ancaman tukik di pulau Sangalaki sangatlah tinggi. Banyak sekali predator alami yang ada di pulau tersebut. Sebagai contoh biawak yang menggali lubang telur penyu, kepiting yang memakan mata tukik, ikan pemangsa dan juga burung elang. Menurut data TF, dari 1000 tukik yang lepas ke laut, hanya ada 1 yang mampu bertahan hingga dewasa dan akan bertelur lagi di pulau Sangalaki.
Selain penyu, Sangalaki menyuguhkan kehidupan liar lainnya yang tak kalah menawan. Burung gosong Filipina, walik kembang, perling kecil, Elang laut perut putih dan Pergam kelabu yang persebarannya terbatas di pulau-pulau kecil Kalimantan adalah secuil kehidupan liar pulau ini yang memanjakan para wildlifer. Setelah pekerjaan selesai kami berpuas-puas menikmati keindahan pulau ini dengan pantainya yang putih. Menikmati segarnya kelapa yang tumbuh alami di sekitar pantai. Atau bebas bersnorkling kapanpun kita mau. Ah Sangalaki, semoga keindahan dan kehidupan liarmu selalu lestari agar kita masih tetap bisa menikmati jejak-jejaknya.

Menikmati kelapa Muda dan Keindahan Sangalaki (foto : doc pribadi)
