Oleh: Azkia ‘Izzatul Jannah
Hai! Namaku Menur, saat ini aku berusia 11 tahun. Aku tinggal di desa terpencil di daerah Jawa Barat. Aku memiliki banyak sekali teman di sini. Kami di sini tidak bisa bersekolah seperti anak-anak lain, karena perjalanan menuju tempat sekolah cukup jauh. Saat memiliki waktu luang, kami biasanya membantu orang tua menyirami tanaman yang kami tanam. Apabila tugas sudah selesai, kami biasanya disuruh bermain.
Pada suatu hari, saat sedang bermain dengan teman-teman entah kenapa kami memiliki ide untuk pergi ke hutan. Kami pun segera berangkat menuju hutan itu. Setibanya di sana, kami melihat hutan seperti habis dibakar. Di hutan tersebut sudah tidak nampak adanya pohon sama sekali, semuanya sudah habis terbakar. Melihat hal tersebut kami bingung harus melakukan apa, kami pun memutuskan untuk kembali ke desa memberitahu para warga tentang hutan yang hangus terbakar.
Sesampainya di desa kami segera memberitahu para warga tentang kejadian tersebut. Namun tanggapan para warga biasa saja, mereka acuh dengan kejadian terbakarnya hutan tersebut. Aku mengusulkan, bagaimana kalau kita melakukan reboisasi. Tapi entah mengapa ekspreksi mereka terlihat pasrah. Mereka tidak menanggapi ucapanku dengan serius, mereka seperti meremehkan kami. Aku bersama teman-teman memutuskan untuk melakukan reboisasi sendiri. Kami akan membuktikan bahwa hutan yang gundul bisa menumbuhkan pohon kembali.
Pada hari yang sudah ditentukan, kami segera berkumpul menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melakukan reboisasi. Setelah semuanya terkumpul, kami segera berangkat menuju hutan itu. Kami membagi tugas agar pekerjaan cepat selesai. Setelah semuanya sudah beres kami memutuskan untuk kembali ke desa dan akan kembali ke hutan di kemudian hari.
Tiga hari kemudian aku bersama teman-teman memutuskan untuk menuju hutan mengecek bagaimana keadaan bibit-bibit pohon yang kami tanam. Sesampainya di sana, kami dibuat kaget dengan keadaan bibit-bibit kami. Bagaimana tidak kaget, ternyata bibit-bibit yang kami tanam semuanya rusak. Sepertinya ada orang yang tidak suka dengan yang kami lakukan.
“Teman-teman, bagaimana ini?” tanya Lina salah satu teman ku.
“Ya ampun, siapa sih yang melakukan hal seperti ini. Padahal perbuatan kita itu perbuatan yang baik loh!” jawab ku.
“Bagaimana kalau besok kita menanam lagi, aku di rumah masih mempunyai beberapa bibit?” tanya Lina kepada teman-teman.
Kami semua setuju dengan usulan Lina. Karena itu kami memutuskan untuk kembali ke desa terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
Keesokan harinya entah kenapa pagi itu suasananya berbeda, langit terlihat mendung sepertinya akan turun hujan. Ternyata benar, hujan mulai turun dengan sangat lebat. Kami tidak jadi pergi ke hutan karena terhalang oleh hujan.
Saat aku sedang menunggu hujan reda, aku mendengar desas-desus bahwa ada tanah longsong di hutan gundul itu. Sepertinya tanah menjadi longsor karena tidak ada pohon untuk menahan tanah yang ada di sana. Orang-orang tahu kalau pohon bisa mencegah terjadinya tanah longsor, tapi kenapa tetap saja ada orang yang tidak bertanggung jawab membakar hutan. Padahal pohon itu sangat penting dan dibutuhkan bagi hutan.
Setelah hujan reda, kami memutuskan untuk kembali ke hutan itu karena akan menanam bibit-bibit pohon yang baru. Karena bibit-bibit pohon yang kami tanam kemarin dirusak oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Sesampainya di sana, kami segera mulai bekerja agar pekerjaan cepat selesai dan kembali ke desa. Saat kami sudah selesai menggali tanah untuk ditanami bibit-bibit baru, para warga desa berbondong-bondong datang menghampiri kami. Mereka ingin meminta maaf karena sudah merusak bibit yang kami tanam.
“Nak, kami minta maaf ya sudah merusak bibit yang kalian tanam. Kami juga meminta maaf karena sudah membakar hutan ini, kami tidak tahu kalau ternyata hutan yang gundul bisa menyebabkan tanah longsor. Apakah kalian mau memaafkan kami?” tanya salah satu warga.
“Iya tidak apa-apa pak, kami sudah memaafkan bapak-bapak semua. Ini menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Nah, karena kita sudah saling memaafkan, bagaimana kalau para warga membantu kami menanam bibit-bibit pohon ini?” jawab ku kepada semua warga.
Semua pun setuju untuk bergotong-royong menanam bibit-bibit pohon tersebut. Aku merasa sangat senang dengan adanya kesadaran dari para warga untuk menanam pohon di hutan. Aku juga bangga dengan teman-teman, walaupun kami tidak sekolah namun kami mengerti arti pentingnya pohon bagi kehidupan.
Hutan adalah sumber kehidupan dan sebgai paru-paru dunia. Menebang sebuah pohon menghancurkan ribuan kehidupan, menanam satu pohon menyelamatkan ribuan makhluk hidup.
