Galeri Festival Literasi Sekolah 2023 dan Website Literasi Sekolah
Sebagai Guru, Tindakan Miftah ke Penjual Es Sungguh Terlalu!

Oleh : Shaim Basyari, S.Pd

Akhir-akhir ini pengguna medsos dibuat jengkel dengan ulah Miftah Maulana Habiburahman, dai kondang yang juga menjabat sebagai utusan khusus presiden. Bagaimana tidak? Pria gondrong itu tanpa tedeng aling-aling mengatai “goblok” pada penjual es teh di tengah-tengah pengajiannya. Mirisnya, hampir semua bapak-bapak yang berada bersamanya di panggung ikut tertawa dengan guyonan gak lucu itu.

Sebagai seorang guru/dai, tindakan Miftah kepada penjual es teh itu sungguh keterlaluan. Dengan alasan apapun. Sikapnya tersebut sangat mungkin ditiru santri/peserta pengajian dan masyarakat secara umum. Apalagi di pengajian yang megah itu pasti banyak anak-anak yang turut serta. Terlebih Miftah menyandang status sosial yang tinggi, sebagai dai, pimpinan pondok pesantren dan staf khusus presiden. Miftah juga sering sekali mondar mandir sebagai pembicara di beberapa podcast terkenal. Tentu pengaruhnya jauh berkali lipat dibanding seorang guru biasa.

Miftah agaknya lupa peribahasa populer yang sering disampaikan guru-guru kita saat sekolah. “Guru makan berdiri, murid kencing berlari”. Bila dimaknai, peribahasa itu mengisyaratkan bahwa apapun yang dilakukan oleh guru, akan ditiru oleh murid, mentah-mentah.  Peribahasa itu punya makna yang sama dengan filosofi orang Jawa terhadap sosok guru sebagai yang digugu lan ditiru (yang dipercaya dan diikuti).

Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara juga telah mewanti-wanti melalui semboyan yang diciptakannya yaitu “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Bahwa saat di depan, seorang guru/dai harus dapat memberikan contoh atau teladan yang baik. Di tengah-tengah harus dapat memotivasi dan memberi semangat serta di belakang harus mampu memberikan dorongan moral dan motivasi.

Sebagai seorang dai, Miftah agaknya juga lupa bahwa Rasulullah SAW diutus ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana hadis berikut ini,

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Al-Baihaqi)

Dengan demikian tidak ada alasan merendahkan orang lain walau bercanda sekalipun.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait