Oleh : Shaim Basyari, S.Pd
Guru IPA
Kita semua sepakat bahwa sampah merupakan masalah besar bagi bumi kita. Sampai saat ini tidak ada manusia yang tidak menghasilkan sampah. Bahkan menurut Mongabay, saat ini rata-rata masyarakat kota “nyampah” 2,5 kg setiap hari. Wow! jumlah yang fantastis.
Yang menjadi keprihatinan kita hingga saat ini adalah masih minimnya pengelolaan sampah yang baik dan benar. Masih banyak masyarakat yang “menghilangkan” sampah di lingkungan sekitarnya dengan cara dibakar. Ini bukan hanya terjadi di kota, tetapi juga di pelosok desa-desa.
Padahal, pembakaran sampah sama halnya memindahkan sampah itu ke udara, bahaya yang ditimbulkan justru lebih besar. Asap yang dihasilkan pada proses pembakaran sampah tersebut dapat menyebabkan banyak penyakit, seperti radang paru-paru, batuk-batuk, dan penyakit pada saluran pernafasan lainnya seperti ISPA.
Tentu saja penyakit yang ditimbulkan akibat sampah ini sangat berbahaya, apalagi jika menyerang balita dan anak-anak. Radang paru-paru disebut-sebut sebagai salah satu penyumbang kematian terbesar bagi balita dan anak-anak.
Pendidikan menjadi salah satu upaya terbaik untuk menyadarkan masyarakat dalam mengelola sampah dengan baik dan benar. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah mempunyai kewajiban untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.
Bagi peserta didik, kesadaran akan pentingnya mengelola sampah menjadi sangat penting karena merekalah generasi penerus bangsa. Di tangan mereka masa depan Indonesia kita titipkan. Hal ini juga sejalan dengan penanaman karakter yang nyaring gaungnya sejak diterapkannya kurikulum merdeka beberapa waktu lalu.
Upaya mencegah timbulnya sampah yang berlebihan terutama di sekolah sebenarnya dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang) seperti yang sudah digaungkan dan diterapkan sejak dulu di berbagai tempat. Ketiga konsep itu sebenarnya dapat kita aplikasikan di tiap instansi pendidikan yang kita tempati. sebagai contoh,
Tanpa Plastik
Sejak ditemukannya plastik sintesis pada tahun 1907, sampai saat ini belum ditemukan cara ampuh mengatasi sampah yang dihasilkan darinya. Plastik merupakan salah satu polimer kompleks yang mempunyai umur degradasi yang sangat lama. Jika kita membuang sampah plastik sekarang, saat kita meninggal plastik yang kita buang itu masih utuh. Ia butuh sekitar 500-1000 tahun sehingga benar-benar terurai.
Oleh karenanya, cara paling efektif untuk mencegahnya adalah mengurangi penggunaannya. Selama ini, tanpa disadari, kita sangat ketergantungan menggunakan bahan ini. Mulai dari bungkus makanan, minuman hingga keperluan lain misalnya tas belanja kita yag berbahan plastik. Tak heran jika plastik menduduki peringkat kedua sampah domestik, yaitu 5,4 juta ton pertahun.
Beberapa cara mengurangi penggunaannya di sekolah adalah melarang penjualan makanan berbungkus plastik. Makanan yang disajikan di kantin sekolah lebih baik disediakan dalam bungkus makanan yang lebih ramah lingkungan (daun) atau disediakan dalam kotak makanan tidak sekali pakai. Siswa atau pembeli dapat membawa kotak makanan dari rumah atau disediakan cawan yang dapat digunakan beberapa kali.
Selain itu, penjualan air mineral dalam kemasan juga menyumbang sampah plastik di sekolah. Hal ini dapat diatasi dengan menyediakan air galon di tiap kelas. Siswa diminta untuk membawa tumbler atau gelas yang bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai ini juga tentu dapat diterapkan di banyak hal lain.
Paperless
Meskipun proses penguraiannya tak selama plastik, kertas juga menjadi penyumbang sampah terbesar di sekolah. Produksi kertas yang berbahan dasar kayu juga tentu dapat mengancam kelestarian hutan dan biodiversitas yang ada di dalamnya. Berhektar hutan harus ditebang dan digantikan dengan kayu-kayu kertas.
Kebijakan pemerintah mengadakan ujian maupun tes kompetensi berbasis komputer tentu patut diapresiasi. Dengan kebijakan ini, jumlah sampah kertas yang dihasilkan sedikit banyak menurun. Oleh karenanya, kebijakan ini perlu diikuti di level sekolah pada ulangan harian dan tugas-tugas yang diberikan kepada siswa. Paperless.
Administrasi guru yang seabrek banyaknya juga tak dapat dipungkiri merupakan penyumbang sampah kertas terbanyak. Di era sekarang, sebenarnya administrasi guru tak perlu menggunakan banyak kertas. Dengan adanya teknologi yang maju di masa sekarang, administrasi guru dapat diwujudkan alam bentuk softfile yang berbasis komputer atau smartphone.
Unit Pengelolaan Sampah Sekolah
Setiap sekolah sebaiknya mempunyai unit pengelolaan sampah yang baik. Di Indonesia, pengelolaan sampah sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang nomor 18 tahun 2008 tentang sampah rumah tangga. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam pasal 20 undang-undang tersebut dijelaskan bahwa pengurangan sampah dapat dilakukan melalui tiga langkah, yaitu pembatasan timbulan sampah, pendaur ulangan sampah, serta pemanfaatan kembali sampah atau yang umum kita dengar dengan istilah 3 R (Reduce, Reuse, Recycle). Sebagaimana yang dijelaskan di awal tulisan ini.
Berdasarkan undang-undang ini juga, penanganan sampah dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni pemilahan sampah dalam bentuk pengelompokan berdasarkan jenis, jumlah dan/ atau sifat sampah, pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke penampungan sementara atau TPS terpadu, pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi dan jumlah sampah dan pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dari residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan yang lebih aman.
Lebih lanjut, unit pengelolaan sampah sekolah yang dibuat dapat dikembangkan ke arah yang produktif. Misalnya, pembuatan kompos dari sampah organik. Pembuatan kerajinan atau alat lain dari sampah-sampah anorganik. Kegiatan ini dapat dimasukkan dalam pembelajaran, misalnya mata pelajaran Prakarya, IPA atau mata pelajaran lain yang berhubungan. Bahkan jika perlu, kegiatan ini dapat dimasukkan dalam kurikulum sekolah sebagai salah satu wujud mencintai alam sekitar. Pada akhirnya, sesulit apapun mewujudkan cita-cita Sekolah Bebas Sampah, atau bahkan tidak mungkin terwujud sekolah tanpa sampah, yang terpenting dan dapat kita usahakan sekarang adalah menjadikan Sekolah Bebas Sampah menjadi sebuah gerakan bersama untuk meminimalisir timbulnya sampah dari aktivitas sehari-hari di sekolah demi bumi kita yang lebih baik.
