“Wong Jawa ilang jawane”. Pepatah itu mungkin sering sekali kita dengar. Rasanya pepatah ini sedikit banyak ada benarnya dan patut kita renungi bersama. Tidak perlu melihat terlalu jauh ke orang lain. Coba kita berkaca pada diri sendiri. Sudahkah kita menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar? Lalu sebutan apa yang biasa digunakan anak-anak kita untuk memanggil orangtuanya? Nyatanya, bahasa yang sering kita gunakan sehari-hari bukanlah Ngoko, Krama Madya ataupun Krama Inggil. Kita lebih sering menggunakan bahasa gaul ala anak masa kini. Anak-anak kita lebih nyaman memanggil orangtuanya dengan sebutan “mama-papa”, “ayah-bunda” ketimbang “mamak-bapak”, “biyung-ramak” apalagi “simbok-pak’e” yang jelas-jelas panggilan asli orang Jawa. Lebih miris lagi, kini panggilan simbok justru lebih sering digunakan untuk memanggil pembantu rumah tangga.
Yang kita bahas tadi barulah tentang bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Secuil dari bongkahan budaya Jawa yang sangat besar. Kita belum membicarakan tentang Joglo yang mulai ditinggalkan, wayang yang tak lagi dikenal, dan aksara Jawa yang tak lebih dari sekedar lambang-lambang. Memang perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan pengaruh budaya global semakin besar dan kuat. Merasuk dan menjadi bagian dari budaya kita dalam banyak hal. Keniscayaan yang tidak dapat kita tolak karena keragaman budaya global itu jugalah yang memperkaya budaya Nusantara. Yang perlu kita tanamkan pada diri dan anak-anak kita adalah kepedulian dan kebanggaan terhadap budaya sendiri juga rasa saling menghargai. Karena siapa lagi yang peduli pada budaya kita, kalau bukan kita sendiri!
So, nikmati sajian dari kami tentang “budaya” pada majalah SuaraUnggulan edisi VI ini!. Klik pada gambar ya guys!

